Jumat, 10 Mei 2013

Digitasi Peta menggunakan ArcGIS


Sebelum melakukan digitasi di ArcMap, terlebih dahulu dibuat shapefile atau feature class kosong yang akan menampung data hasil digitasi. Shapefile/feature class ini dibuat melalui ArcCatalog. Langkah berikut adalah cara membuat shapefile di ArcCatalog : 

1.  Klik kanan pada folder tempat penyimpanan data, pilih New --> Shapefile


2.  Pada dialog Create New Shapefile, ketikkan nama shapefile di Name dan pilih tipe data yang sesuai di Feature Type.  



3.  Klik Edit di bagian bawah kotak Spatial Reference, klik Select, pilih sistem
koordinat yang sesuai dan klik Add. 

4. Sistem Koordinat terpilih masuk ke Spatial Reference Properties. Klik OK.

 
5. Klik OK untuk menutup dialog Create New Shapefile. Shapefile baru akan muncul di ArcCatalog.


Digitasi di ArcMap 
 Digitasi adalah proses mengkonversi obyek geografis dari peta analog / cetak ke format digital. ArcGIS Desktop mendukung beberapa metode digitasi, dengan digitizer tablet dan on screen digitizing. ArcGIS juga sudah mendukung fitur tablet PC sehingga bisa langsung digitasi langsung di monitor dengan stylus pen. Untuk on screen digitizing langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 
1. Buka aplikasi ArcMap 

2. Klik Add Data


3. Tambahkan ke ArcMap :
     a. peta hasil scanning yang sudah direktifikasi dan
     b. Feature Class Danau dari Personal geodatabase
 
4. Sehingga di Table Of Content (TOC) muncul dua buah layer. 
5. Klik tombol  untuk mengaktifkan toolbar Editor. 


6. Dari toolbar editor klik Editor – Start Editing 

7. Pastikan pada drop-down Task : Create New Feature dan drop-down Target :
Danau 

8. Klik tombol Sketch Tool untuk memulai digitasi. 

9. Zoom ke salah satu obyek danau hingga cukup elas untuk didigitasi.
 
10. Klik pada tepi obyek untuk memulai digitasi sehingga seluruh tepi obyek
terdigitasi.
 
11. Dobel-klik atau tekan F2 untuk mengakhiri. Lakukan langkah yang sama
untuk obyek di tempat lain yang terpisah.
 
12. Untuk mengubah bentuk hasil digitasi, pilih Task : Reshape Feature dan
digitlah perubahan batas yang ada. 


13. Untuk membuat poligon yang berbatasan langsung dengan poligon lain, pilih Task : Auto-Complete Polygon dan aktifkan fungsi snapping dengan mengeklik Editor – Snapping. 

 
 
 14. Untuk mendigitasi poligon baru yang berada di dalam suatu poligon yang telah ada sebelumnya, gunakan Task : Create New Feature. Setelah digitasi selesai, dobel-klik untuk mengakhirinya dan langsung klik Editor – Clip pada toolbar Editor. Pada kotak dialog Clip, pilih Discard the area that intersects kemudian klik OK. Proses ini untuk memisahkan batas antara poligon baru dengan poligon yang mengelilinginya. 
15. Jika telah selesai mendigitasi, simpan hasilnya dengan mengeklik Editor –
Save Edits atau Stop Editing. 
 
Sumber:
http://catatanqasran.blogspot.com/2012/01/cara-digitasi-peta-di-arcgis-arcmap-how.html

Jumat, 03 Mei 2013

Registrasi Image Menggunakan ArcGIS

Georeferencing adalah proses penempatan objek berupa raster atau image yang belum mempunyai acuan system koordinat ke dalam system koordinat dan proyeksi tertentu. Salah satu cara membuat data SIG adalah dengan mendigitasi data raster. Beberapa teknik untuk mendigit data, dan pada umumnya terbagi atas dua kelompok yaitu:
- mendigitasi data menggunakan alat yang disebut digitizer
- digitasi dengan menggunakan layer Komputer dan mouse yang kita sebut digitasi on screen

Sebelum mendigit data kita harus melakukan registrasi citra yaitu memberikan data koordinat pada citra atau image sehingga citra tersebut memiliki posisi geografis.
Secara umum tahapan georeferencing (dengan menggunakan ArcMap) pada
data raster adalah sbb:
a.    Tambahkan data raster yang akan ditempatkan pada system koordinat dan proyeksi tertentu.
b.    Tambahkan titik control pada data raster yang dijadikan sebagai titik ikat dan diketahui nilai koordinatnya.
c.    Simpan informasi georeferensi jika pengikatan obyek ke georeference sudah dianggap benar.

Tampilan awal ArcGIS
Buka Peta yang akan diregistrasi dengan menggunakan menu file – add data, sehingga muncul peta disebelah kanan (seperti yang diperlihatkan pada gambar di bawah ini), namun peta ini belum memiliki koordinat, perhatikan pada pojok kanan bawah (unknown units)
Pilih menu add control point pada pojok kanan atas, daerah yang diarsir
Perbesar peta dengan menggunakan menu zoom out untuk memudahkan melihat koordinat peta, klik koordinat yang diketahui untuk melakukan input nilai X & Y
Input nilai X & Y
Klik kanan pada peta yang diregistrasi dan pilih menu zoom to layer untuk menampilkan peta
Klik menu Rectify
Setelah tadi dilakukan save maka add peta yang telah diregistrasi tadi dengan menggunakan tanda (+) atau dari menu file – add data…perhatikan daerah yang diarsir pada sudut kanan bawah, peta telah memiliki koordinat
 
sumber: http://geoexplore-energy.blogspot.com/2009/11/registrasi-peta-dengan-arcgis.html

Rabu, 03 Oktober 2012

Apakah Indonesia Bisa Seperti Ini???


Coba perhatikan Gambar berikut:






















Apa yang anda pikirkan ketika saya bertanya dimana letak Sungai yg ada pada gambar diatas? Sungai Cikapundung kah? atau Sungai Citarum, atau mungkin Sungai Ciliwung? Mungkin sebagian besar dari anda yang membaca berpikir bahwa Sungai diatas merupakan salah satu sungai-sungai di Indonesia...

MAAF ANDA SALAH!!! Sungai tersebut merupakan penampakan Sungai Kallang (Kallang River) yang terletak di salah satu negara yang menjadi tujuan utama wisata di Asia Tenggara, anda sudah bisa menebak negara tersebut? ya negara tersebut kita kenal dengan nama SINGAPURA...

Gambar paling atas merupakan gambar Tepi Sungai Kallang yang diambil pada tahun 1976, dan gambar dibawahnya merupakan foto permukiman warga di tepi Sungai Kallat (Braddell) pada tahun 1968. Mari dibandingkan dengan foto berikut:

 Gambar disamping merupakan foto Sungai Cikapundung beberapa waktu lalu, saya rasa jika kita bandingkan maka muncul pertanyaan, Bagaimana bisa Singapura mengubah kondisi sungai menjadi seperti saat ini?
mari kita bahas sedikit sejarahnya...

Pada tahun 1819 Sir Stamford Raffles dan anak buahnya mulai masuk ke arah hulu dan permukiman pertama dibangun di sepanjang tepian sungai seperti kota-kota pinggir sungai saat ini (Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda). Perdagangan lalu berkembang diatas sungai dan Singapura dinyatakan sebagai pelabuhan bebas, sungai menjadi titik utama (focal point). Banyak gudang dibangun berdekatan dengan rumah toko (ruko) di sepanjang sungai termasuk bengkel kapal dan pabrik pembuatan kapal. Pabrik pengalengan makan bercampur dengan pabrik sagu, pabrik penggilingan beras, dan masih banyak lagi.

Semua kegiatan tersebut telah mengotori sungai selama beratus-ratus tahun, pencemaranpun nyata dirasakan telah membunuh kehidupan perairan sungai, muara (dan laut), sedang di pihak lain penduduk yang terus bertambah mendambakan pula air bersih berkualitas tinggi. Maka pada tanggal 27 Februari 1977, pada acara pembukaan reservoir di daerah hulu, Perdana Menteri Lee Kuan Yew menantang Singapura untuk bersama-sama membersihkan sungai, dalam 10 tahun diharapkan orang bisa memancing ikan kembali di Sungai Singapore dan Sungai Kallang. Dan hasilnya, pada bulan September 1987, Menteri Lingkungan Hidup Singapura mencanangkan keberhasilan 10 tahun proyek kegiatan membersihkan sungai-sungai tersebut. Bahkan pada tahun 1984 sungai tersebut telah dinyatakan bersih dan aman sehingga sekitar 400 orang berkumpul dan memberanikan diri membuktikan Sungai Singapore dan Sungai Kallan bersih, dengan BERENANG!!!



Gambar diatas merupakan hasil kerja keras Masyarakat Singapura bekerja sama dengan Urban Redevelopment Authority Singapore dalam mengimplementasikan Perencanaan 'Singapore Clean and Green' 1977-1987. 

Mungkin sejarah diatas dapat kita jadikan acuan bahwa INDONESIApun mampu melakukannya, tinggal keinginan dan niat kuat dari Mayarakat, Pihak Swasta dan Pemerintah untuk saling bekerja sama...

Sumber: http://otterman.wordpress.com/2012/09/23/the-cleaning-up-of-singapore-river-and-kallang-basin-1977-1987/

Pengembangan RTH Kota Jangka Pendek

Kegiatan pengembangan RTH Kota Jangka Pendek antara lain:
  • Refungsionalisasi dan pengamanan jalur-jalur hijau alami, seperti di sepanjang tepian jalan raya, jalan tol, bawah jalan layang (fly over), bantaran kali, saluran teknis irigasi, tepian pantai, bantaran rel kereta api, jalur SUTET, tempat pemakaman umum (TPU), dan lapangan olahraga, dari okupasi permukiman liar.
  • Mengisi dan memelihara taman-taman kota yang sudah ada, sebaik-baiknya dan berdasar pada prinsip fungsi pokok RTH (identifikasi dan keindahan) masing-masing lokasi.
  • Memberikan ciri-ciri khusus pada tempat-tempat strategis, seperti batas-batas kota dan alun-alun kota.
  • Memotivasi dan memberikan insentif secara material (subsidi) dan moral terhadap peran serta masyarakat dalam pengembangan dan pemeliharaan RTH secara optimal, baik melalui proses perencanaan kota, maupun gerakan-gerakan penghijauan.
  • Prasarana penunjang dalam pengembangan RTH yang dibutuhkan, adalah tenaga-tenaga teknisi yang bisa menyampaikan konsep, ide serta pengalamannya dalam mengelola RTH, misal pada acara penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat). Dibutuhkan sosialisasi dan penyuluhan secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan, maupun masyarakat umum secara luas.
(dikutip dari buku "Ruang Terbuka Hijau: Sebagai unsur utama tata ruang kota" oleh Dirjen Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum.)